Semarak penyelenggaran pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2020 di tengah masyarakat saat ini kian terasa. Dari daerah perkotaan sampai di kawasan pesisir, sibuk membicarakan tentang jagoannya.
Pilkada serentak memang terasa spesial, karena proses pemilihan kepala daerah, mulai dari wali kota/bupati dan gubernur akan dilakukan dalam waktu bersamaan. Artinya, dibutuhkan strategi bagi tiap paslon untuk memenangkan hati para pemilik suara. Tentang strategi pemenangan ini, biarlah masing-masing paslon menyusunnya.
Ada yang muncul dengan lagu lama seperti pilkada sebelumnya, ada juga trik baru beserta “kelucuan” masing-masing. Berhasil atau tidak trik ini, jadi buah dari spekulasi masing-masing tim sukses.
Saya mendengar, entah benar atau tidak, saya tidak tahu juga. Tapi saya terkejut. Ada yang berjanji akan membuka lapangan pekerjaan cukup besar bagi masyarakat. Berkolaborasi para pendatang baru untuk sama-sama membangun wilayah pesisir Batam.
Misalnya masyarakat pesisir merasa senang dengan janji ini, saya justru sebaliknya, Miris. Semoga ada yang senada dengan saya.
Muncul beragam pertanyaan dalam benak, apakah ini betul-betul baik untuk pengembangan daerah? Atau ini adalah model jajahan baru untuk menguasai daerah pesisir? Bagaimana warga pesisir bisa bertarung untuk tidak tergerus persaingan?
Entahlah, semoga bukan seperti itu maksud dan tujuannya. Saya masih sangat yakin, masyarakat pesisir masih bisa berdiri di atas tanahnya sendiri.
Pandemi global Covid-19 saat ini telah mengubah pola hidup masyarakat, mereka dihadapakan dengan pola New Normal (tatanan normal baru). Semua orang diwajibkan menjalankan protokol kesehatan ketika berada di luar rumah. Memakai masker, sering-sering mencuci tangan, menggunakan hand sanitizer, membawa perlengkapan ibadah masing-masing, dsb.
Tentang kewajiban menjalankan protokol kesehatan ini, merupakan mandat langsung dari pak Presiden (Jokowi). Disiapkanlah flyer, spanduk, selebaran dan sebagainya agar masyakarat bisa mematuhi dan menjalankan protokol kesehatan.
Agak lucu menurut saya, ketika penerapan protokol kesehatan di tengah masa pilkada seperti sekarang. Pemerintah menggemborkan tentang protokol kesehatan, sementara para paslon tetap melaksanakan kegiatan dengan mengumpulkan warga dalam jumlah ramai, duduk berdampingan, berjoget ria, bersalam-salaman seperti biasa, masker digunakan tetapi seperti tidak digunakan.

Di masa awal menjelang pendaftaran bakal calon di Batam dan daerah lain di Kepri, hal itu terlihat jelas.
Memasuki tahapan selanjutnya, entah bagaimana lagi bentuknya. Saya juga mendengar, ada yang berencana membuka berbagai kegiatan di tengah-tengah masyarakat (event olahraga), dengan dalih tetap menjalankan protokol kesehatan. Hmm.. ade-ade saje!…
Cerita tentang pemilu, cerita tentang janji manis tanpa realiasi adalah sesuatu yang mainstream.
Saya teringat cerita pemilu 4 tahun lalu, ketika paslon yang saat itu menjadi pasangan terpilih menjalankan mandat memimpin daerah. Berjanji mewujudkan janji manisnya untuk membangun infrastruktur kampung-kampung di pesisir, mereka yang menjanjikan fasilitas pemerataan listrik, mereka yang menjanjikan infrastruktur jalan aspal yang terhubung ke kota, pada akhirnya belum juga terealisasi. Sampai hari ini.
Menjadi pemimpin dengan segudang pekerjaan besar, mungkin membuat mereka lupa dengan janji itu. Ketika follow up untuk janji tersebut dilakukan rutin oleh aparat desa, ketika warga desa dijanjikan pembangunannya tahun depan, beberapa bulan lagi, bahkan bulan depan? Namun tetap juga tidak tampak realisasinya.
Apakah ini masih bisa dibilang juga lupa? Hmm.. lagi-lagi entahlah, mereka pasti mempunyai 1001 alasan lagi..hehe…
Pemilu sudah di depan mata, para calon pemimpin daerah mulai menebarkan janji-janji mereka (lagi). Apakah kali ini akan berulang lagi siklus yang sama?
Ini sangat lucu, tapi perlu saya sampaikan, pasangan calon terpilih saat ini datang ke pesisir kembali dengan membawa janji yang sama seperti 4 tahun kemarin. Tidakkah itu lucu? Hehe
Harapan-harapan…
Semoga maysarakat pesisir tidak berakhir seperti masyarakat nepal yang habis digerus kolonialisme kota, yang dijual kearifan lokal-nya untuk keserakahan manusia kota. Masyarakatnya dijanjikan kesejahteraan dengan keterbukaan lapangan pekerjaan ketika bisa membaur dengan warga kota. Alih2 mendapatkan kesejahteraan, mereka justru menjadi budak pengeruk uang untuk warga perkotaan.
Semoga masyarakat pesisir tidak berakhir sperti suku Bajau yang tersebar di pulau besar di perairan Utara Indonesia. Mereke dijanjikan kehidupan sejahtera. Pada akhirnya mereka tidak bisa beradaptasi dengan kehidupan bergaya kota, tidak produktif karena laut mereka dirusak, mereka terjajah di negeri sendiri.
Semoga saja 🙂
The Bajau adalah film dokumenter karya Dandhi Laksono. Tersedia di Chanel Youtube Wathcdoc Documentary. Film ini merupakan satu dari banyak karya Dhandi dan satu kawannya ketika bergerak menyusuri Indonesia pada 2015 lalu.



