Minggu 13 September 2020 lalu, Kampung Selat Nenek, Kelurahan Temoyong, Kecamatan Bulang mengelar kegiatan lomba speedboat. Sebanyak 40 Speedboat dari berbagai kampung di sekitar kawasan pesisir Batam ini ikut dalam gelaran adu cepat di laut tersebut.
Sejak pagi sebelum dimulainya lomba hingga selesainya acara, perairan Selat Nenek ini riuh dengan lengkingan mesin tempel yang menjadi penggerak Speedboat dan sorak ria masyarakat pesisir memeriahkan lomba, meskipun saat itu hujan cukup deras mengguyur.
Rajis, Ketua Panitia Lomba Speedboat ini menuturkan, kegiatan Lomba Speedboat ini merupakan ruang silaturahmi antar warga dan tempat menyalurkan hobi bagi para nelayan yang sebagian besar waktunya dihabiskan di laut. Kesenangan dari perlombaan speedboat berbahan fiber ini tidak hanya dinikmati oleh para lelaki tua dan muda yang menjadi peserta lomba saja, namun juga dirasakan oleh anak-anak dan kaum ibu yang menyaksikannya.
“Ini juga sudah menjadi budaya kami masyarakat di pulau-pulau sekitar sini, hiburan juga untuk semuanya,” kata Rajis menjelaskan.
Di setiap babaknya, selalu ada momen menarik yang membuat warga enggan melewatinya. Entah itu sengitnya persaingan antar speedboat untuk bisa maju ke babak berikutnya, atau kejadian lucu dan suasana menegangkan yang kadang terjadi di tengah perlombaan. Jadilah kegiatan ini terus digandrungi masyarakat sedari awal hingga akhir.
Menguatkan pernyataan bahwa kegiatan ini sudah menjadi budaya bagi nelayan di Kelurahan Temoyong dan sekitarnya, Rajis menjelaskan kalau event semacam ini sangat sering diadakan. Lomba Speedboat ini diadakan sampai beberapa kali dalam setahun, jauh lebih sering dibandingkan dengan kegiatan lomba atau turnamen lainnya.

Biasanya, kegiatan tersebut diadakan atas inisiatif warga dengan dana operasional yang juga berasal dari swadaya masyarakat sendiri. Dalam kondisi tertentu, terselenggaranya gelaran ini juga didanai oleh pihak lain baik dari dalam maupun warga dari luar kampung yang memang memiliki kesenangan dengan perlombaan speedboat ini.
Gelaran kali ini, didukung oleh beberapa warga Selat Nenek yang menjadi donatur utamanya. Diantaranya Zainal, Cua, Norden dan Bolok. mereka bahu membahu menyukseskan kegiatan. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Iman Sutiawan, salah satu tokoh masyarakat di Pesisir Batam yang aktif di dunia politik. Iman saat ini tercatat menjadi kontestan (Calon Wakil Gubernur) dalam gelaran Pilkada Provinsi Kepri tahun 2020 ini.
Zainal menjelaskan, dalam waktu dekat kegiatan serupa juga akan diadakan kembali. Pihaknya tengah menyusun segala persiapannya, terutama soal pendanaan yang memang menjadi hal krusial dalam setiap gelaran kegiatan kemasyarakatan dalam bentuk perlombaan seperti ini.
Masyarakat Melayu, khususnya mereka yang berada di pesisir seperti di Kepri ini, memang memiliki banyak sekali kreasi hiburan dalam bentuk perlombaan di laut. Lomba speedboat di atas hanya satu dari banyak gelaran perlombaan lainnya, seperti perlombaan Boat Pancung, Pompong (boat dengan mesin diesel) Jong, sampan layar (Kolek), Dayung Sampan, Jongkong, dan lain sebagainya.
Ada yang menggunakan mesin sebagai penggerak, ada juga perlombaan yang hanya menggunakan angin dan tenaga manusia. Boleh dikatakan, hampir semua kendaraan laut yang dipakai nelayan untuk mendukung mereka mengais rezeki, juga digunakan untuk kegiatan lomba yang mmemang menjadi hiburan utama masyarakat pesisir.
Penggunaan mesin pada lomba speedboat seperti di atas, menjadi mungkin seiring dengan kemajuan teknologi yang mendukung pengetahuan untuk memudahkan kerja para nelayan. Menjadi energi baru menggantikan angin dan tenaga mereka sendiri yang sebelumnya dioptimalkan dalam setiap kegiatan mereka mengumpulkan hasil laut, ataupun aktivitas perlombaan.

Meskipun demikian, permainan tradisional seperti perlombaan Jong dan Kolek yang memanfaatkan laju angin masih tetap eksis dan dipertahankan sampai saat ini. Menjadi identitas budaya pesisir Kepri dengan berbagai kearifan di dalamnya. Permainan yang menuntut setiap pesertanya harus memahami banyak aspek seperti kekompakan, insting/rasa dan kekuatan mental untuk menjadi pemenang.
Di masa lalu, permainan-permainan ini tentu tidak hanya sekedar permainan seperti sekarang. Beberapa diantaranya justru menggambarkan ketangguhan masyarakat pesisir ketika mereka berada di laut, mengarungi lautan mungkin lebih tepatnya. Bagaimana mereka memanfaatkan kecepatan angin, bertahan di tengah terjangan gelombang, mampu menentukan titik pergi dan kembali hanya dengan mengandalkan insting dan tanda-tanda dari alam.

Dengarlah cerita para tetua di kampung-kampung pesisir, akan kau temukan fakta yang mendukung itu semua. Bahwa ada nelayan yang menyeberang ke Negara tetangga Singapura dan Malaysia menggunakan Sampan, dengan dayung yang hanya digerakkan otot mereka. Atau mereka yang sampai ke sana hanya memanfaatkan angin sebagai pendorong perahu. Atau kesaksian lain yang mungkin hanya bisa kau dengar dari mereka yang seumur hidupnya di pesisir.
***Tulisan ini adalah kiriman dari Tomi Syaputra Bacharudin, pemuda asal Pulau Panjang Barat, Kelurahan Setokok, Kecamatan Bulang, Batam. Tulisan ini telah melalui proses penyuntingan tanpa merubah substansi isi tulisan. Tulisan ini menjadi tanggung jawab penulis.



