Pemerintah Pusat menetapkan Batam sebagai kota industri pada tahun 1971. Terletak di lokasi strategis yang berdekatan dengan Negara tetangga Singapura dan Malaysia menjadi factor penentu ditetapkannya Batam sebagai kota industri sejak awal. Penetapan ini kemudian diikuti dengan pembangunan infrastruktur penunjang industri yang dilakukan secara besar-besaran.
Proyek ambisius ini digarap secara serius demi mewujudkan rancangan menjadikan Batam sebagai “Houston” di kawasan Asia Tenggara.
Saat itu dibangun kilang-kilang minyak yang menjadi salah satu fokus industrialisasi, salah satunya adalah kilang yang bisa menghasilkan 1.800 kepingan besi untuk membuat tangki-tangki minyak. Tidak jauh dari kawasan ini, juga terdapat bengkel penggilingan dan mesin yang menelan biaya USD 1 juta yang dibangun oleh Pertamina dan perusahaan dari Australia Vickers Ruwolt. Fasilitas industri ini untuk mempermudah kejuruteraan bagi perusahaan minyak di Asia Tenggara (Berita Harian, 26 Juni 1974,Hlm 4).
Selain itu, pada tahun 1978 direncanakan akan dibangun jalan raya sepanjang 20 Kilometer (KM) yang memiliki kualitas setara dengan jalan raya di Singapura dengan durasi pekerjaan diperkirakan memakan waktu 6 bulan (Berita Harian, 2 August 1979, Hlm 4).
Ditetapkannya Batam sebagai kota industri ini telah mengubah pola kehidupan masyarakatnya dan mendorong peningkatan jumlah penduduknya secara signifikkan.
Untuk diketahui, penduduk awal yang mendiami kawasan Pulau Batam masih bersifat tradisional. Sebagian besar penduduknya merupakan nelayan dan pencari kayu. Pada tahun sekitar 1970, pulau Batam hanya dihuni oleh sekitar 6.000 penduduk saja.
Seiring penetapannya sebagai kota industri tersebut, jumlah penduduk di Batam terus mengalami kenaikan tajam. Pada tahun 1978 jumlah penduduk Batam mencapai 31.800 jiwa atau naik sebanyak 25.800 jiwa hanya dalam waktu 8 tahun saja. Tahun 1983 penduduk Batam sudah berjumlah 90.500 jiwa dan menyentuh angka 107.600 jiwa pada tahun 1991.
Pembangunan Batam yang sedemikian pesat ini, mengharuskan penduduk lokal beradaptasi terhadap industrialisasi dan modernisasi kota yang dilakukan pemerintah. Industrialisasi dan Modernisasi Kota Batam yang sedemikian pesat ini, nyatanya tidak selalu beriringan dengan kemakmuran penduduk pinggiran yang sudah menetap jauh sebelum Bata mini dibangun.
Kondisi geografis Batam yang dikelilingi banyak pulau (Hinterland) cukup menyulitkan dalam pemerataan pembangunan. Ada ketimpangan yang besar antara penduduk Hinterland yang masih sangat tradisional dengan Batam sebagai daerah utama (Mainland) yang dicanangkan sebagai ‘Houston” di Asia Tenggara ini. Fokus pembangunan yang berpusat di kota sebagai pusat pembangunan dan produksi semakin menambah kesenjangan diantara keduanya.
Hal lain yang menjadi permasalahan kota industri adalah ekspansi wilayah. Pembangunan yang cepat di wilayah perkotaan, berimbas pada semakin sempit lahan yang tersedia. Faktor ini menjadikan pemerintah mencari lahan-lahan baru di wilayah pinggiran untuk melanjutkan pembangunannya.
Permasalahan muncul ketika ekspansi wilayah telah menyentuh kawasan yang menjadi ruang hidup bagi masyarakat lokal di pinggiran Batam ini. Mempengaruhi kegiatan ekonomi warga pinggiran. Penduduk pinggiran yang semakin teralienasi secara ekonomi, akhirnya menuju kota sebagai pusat ekonomi. Menghadapi tatanan kehidupan yang tidak hanya ekonomi, namun social budaya yang juga baru buat mereka.
Pertanyaannya, seberapa mampu mereka beradaptasi terhadap modernisasi kota yang memiliki persaingan ketat, standarisasi, dan semua hal yang dirasa baru.
Nagoya, Internet dan Pesisir
Di Kampung Monggak, Kelurahan Rempang Cate, Kecamatan Galang, Batam, Kepulauan Riau, tim suarakite.com (selanjutnya ditulis ‘kami’) bertemu dengan satu keluarga yang sampai saat ini masih menggunakan kayu sebagai bahan bakar untuk kegiatan memasak di rumah. Padahal warga lain di kampung ini umumnya sudah menggunakan gas.
Sama dengan warga kampung lain di pesisir Batam dan daerah lain di Indonesia, warga Monggak termasuk keluarga Susah sempat mendapat bantuan kompor gas lengkap dengan tabungnya. Tapi tak pernah terpakai dan barang itu raib entah kemana (mungkin dijual).
Bukan tidak ingin ikut serta menggunakan gas sebagai pengganti kayu bakar, namun kekahwatiran kalau kompor gas ini meledak dan tidak tahu cara memasang dan mengganti tabung menjadi soal.
Susah nama kepala keluarga ini, ia adalah nelayan dan pencari kayu yang punya suara merdu. Kata dia, suaranya mirip A. Ramli, penyanyi legendaris asal Singapura di era 60-an. Hampir semua lagu A. Ramli ia hafal, padahal tak bisa baca tulis dan tak sekolah, bahkan di tingkat dasar sekalipun. Ia mengandalkan daya ingat ketika mendengarkan senandung dari pemutar musik miliknya.
Jika di kota, mungkin ia sudah jadi peyanyi terkenal. Sayangnya tidak, Susah yang sudah berumur lebih dari setengah abad ini sangat asing dengan kehidupan dan gerak cepat kota.

Sebagian besar hari banyak dihabiskan dalam sampan kayu miliknya. Mulai subuh ia sudah pergi memotong kayu dan kembali ketika kayu yang didapat dirasa cukup, biasanya pukul 08.00 atau 09.00 WIB ia sudah berada di rumah. Siang atau sorenya, Susah kembali mendayung sampan menyusuri sungai untuk mencari Kepiting, Ikan Sembilang, dan hasil laut lain yang bisa ditukar untuk menghidupi istri dan dua anak laki-laki yang masih ditanggungnya.
Kepada Susah, jangan tanyakan dimana Nagoya? Ia tidak tahu dengan salah satu sisi modern Kota Batam ini, tak pernah sampai ke sana juga. Lokasi pusat perbelanjaan, kuliner, spa and massages, dan hiburan yang telah ada sejak awal Batam dikembangkan. Sampai saat ini Nagoya menjadi tujuan utama bagi wisatawan, baik wisatawan lokal yang mengincar barang mewah dengan harga murah karena Batam bebas pajak, maupun wisatawan manca negara yang ingin menikmati kenyamanan relaksasi spa dan massages ketika berkunjung ke Batam.
Uniknya Susah tak paham dengan Nagoya, yang jadi identitas kotanya. Ia hanya mengerti sedikit tentang SP Plaza, kawasan pasar yang paling dekat dengan kampungnya, sebab pernah datang bertandang, itupun bisa dihitung jari di usianya sudah separuh baya.
Buatnya, tak penting bagaimana Batam berkembang seperti apa kini dan nanti, selama itu tidak mengganggu aktivitasnya sebagai nelayan dan pencari kayu. Selama dirinya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya yang sangat bergantung pada kondisi alam. Yang hasilnya kadang cukup, kadang kurang, jarang lebihnya.
Rom lain lagi. Sebagai anak muda pesisir, aktivitasnya lebih luas dibandingkan Susah. Di sela rutinitasnya bekerja sebagai nelayan, lebih tepatnya mencari Gonggong (binatang laut yang hanya ada di daerah pesisir Batam dan perairan Malaysia) dengan cara menyelam, Rom juga sering keluar kampung, bersosialisasi dengan masyarakat di ampung lain. Juga bertandang ke kawasan kota untuk sekedar menikmati kemewahannya sesekali.
Berada di kawasan kota, ia hanya sekedar menikmati peradaban yang terus berkembang, yang itu tak bisa diimbangi, sebab bekal pendidikan dan pengalamannya yang tak memadai.
Sebaliknya, menyelam Gonggong tidak perlu pendidikan formal. Ia hanya butuh kaca mata selam dan keahlian berenang, sudah bisa menghasilkan uang. Jika dalam kondisi alam tengah bagus-bagusnya, ia bisa menghasilkan puluhan Kilogram Gonggong hanya dalam beberapa jam saja. Cukup untuk kehidupannya sehari-hari, membeli rokok, kopi dan sedikit membantu kebutuhan orangtuanya.
Senada dengan gerak perkotaan yang tak bisa diikuti Rom, Susah dan mungkin kebanyakan masyarakat pesisir, mereka juga menganggap orang-orang kota lebih baik dari mereka. Rom pernah beberapa kali menerima kunjungan mahasiswa dari Batam untuk program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di kampungnya.disamping kampung mereka juga sering didatangi warga kampung lain.
Saat itu, komunikasi mereka dengan pendatang dari kota (Mahasiswa KKN), tidak lebih baik dari hubungan antara masyarakat kampungnya dengan pendatang yang berasal dari kampung lain dari pesisir Batam. Padahal sama-sama belum saling kenal sebelumnya. Dengan sesama warga kampung, meskipun berasal dari berbeda pulau, mereka tetap merasa sama dan setara, sehingga lebih cepat akrab.
Dengan warga kota, meskipun akhirnya tetap bisa berkawan dengan mereka, prosesnya menjadi lebih lama. Rom dan pemuda kampung lebih banyak malu-malu menghadapi mereka. Padahal, mungkin saja para pendatang ini lebih kagum dengan kehidupan kampung, kearifan lokal yang hadir di tengah keterbatasan yang di dalamnya.
Tentang pengalaman menjamah kehidupan kota, kami bertemu Boy Harianto, warga pesisir yang bercerita tentang ia mencari pekerjaan di berbagai kawasan industri di Batam dan sedikit pengalamannya setelah bekerja yang selalu tidak berjalan baik. Terasa menarik, bisa mengetahui bagaimana kehidupan kota menyambut segala keterbatasannya dan mungkin banyak warga pesisir lain.
Boy mengaku sudah pusing sejak awal dirinya mempersiapkan sejumlah persyaratan untuk melamar pekerjaan. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK), Kartu Kuning, Curriculum Vitae (CV), Surat Pengalaman Kerja, dan segala tetek bengek lainnya.
Untuk membuat NPWP saja, ia yang lulusan SMA di pesisir, mesti bertandang ke rumah temannya di kota. Ia mengaku tidak berani datang ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Batam Utara sendiri, karena tidak tahu harus bagaimana nantinya. Padahal tinggal bertanya saja, minta diarahkan sesuai dengan keperluannya.
Boy hanya bertahan beberapa bulan saja bekerja, sempat beberapa kali pindah tempat kerja dengan beragam alasan. Mulai dari kesulitan beradaptasi yang berujung ketidakcocokannya dengan rekan kerja, hingga persoalan kedisiplinan yang memang jauh terasa lebih ketat jika dibanding dengan kehidupannya di pesisir.
Begitulah penuturannya, menggambarkan bagaimana ia merasa sangat asing dan terbatas ketika ingin membaur dengan kehidupan di kota, padahal pendidikannya lebih tinggi dari Susah dan Rom. Di kampunnya saat ini, ia kembali menjalani profesi sebagai nelayan. Bekerja menyesuaikan dengan kondisi alam seperti Susah dan Rom.
Terlepas dari pengalaman Susah, Rom dan Boy, masyarakat pesisir umumnya sepakat menganggap orang-orang yang tinggal di kota lebih segalanya dibanding mereka yang tinggal di pulau-pulau di pesisir Batam. Masyarakat kota diyakini lebih pintar meskipun saat ini fasilitas pendidikan di pulau-pulau pesisir Batam sampai jenjang SMA se-derajat sudah banyak dibangun.
Memang fasilitas sekolah-sekolah di pulau tidak sememadai dibanding di wilayah perkotaan, namun hadirnya fasilitas penddikan ini bisa menjadi dasar untuk memulai memandang masyarakat kota tidak jauh lebih baik dibanding warga pesisir secara berlebihan. Warga kota memiliki fasilitas pendidikan dan modernitas lingkungan, masyarakat pesisir juga memperoleh pendidikan dengan kearifan khas masyarakat pesisir yang tidak didapat di kota.
Masyarakat kota dianggap lebih maju, padahal akses informasi melalui koneksi internet juga sudah sampai ke wilayah pesisir. Sama seperti warga di perkotaan, masyarakat pesisir rata-rata sudah memiliki smartphone dengan dukungan koneksi internet, walaupun tidak selalu stabil.
Seberapa besar smartphone itu digunakan untuk menunjang pengayaan informasi, sepertinya masih menjadi persoalan. Smartphone yang sejauh ini difungsikan masyarakat pesisir kebanyakan hanya untuk kebutuhan bermedia sosial (Facebook) dan game, menjadi realitas yang sulit dibantah.
Padahal, smartphone di genggaman mereka itu bisa digunakan untuk menggali banyak informasi dan pengetahuan yang memudahkan masyarakat pesisir. Mengimbangi pengetahuan terkait sebaran informasi yang dimiliki masyarakat di perkotaan.
Tak usahlah muluk-muluk membicarakan anak desa yang belum mengecap pendidikan yang memadai, pun anak desa yang telah menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di negeri ini serta bekerja di media juga bisa mengalami hal serupa. Permasalahan yang berkenaan dengan mental ini sudah sedemikian merasuki sampai mendarah daging dan tulang belulang anak desa.
Banyak lagi indikator-indikator lain yang memperlihatkan keyakinan masyarakat pesisir, khususnya anak muda bahwa mereka setarapun tidak, apalagi lebih baik dibanding anak-anak kota. Kondisi ini menjadi dilemma, karena anggapan ‘orang kota lebih baik dari masyarakat pesisir’ itu seolah sudah menjadi keyakinan, mungkin masyarakat kota belum tentu juga meyakini demikian.
Jika pernah atau berencana datang berkunjung ke kampung-kampung di pesisir Batam (Daerah di Kecamatan Galang, Bulang, dan Belakangpadang) jangan heran jika terus diperhatikan. Masyarakat pesisir akan terus memerhatikan dan akan berbicara tentang kalian orang kota, mengagumi dirimu yang bersih, pakaianmu yang bagus, rambutmu, dan segala kelebihan yang tak dimiliki masyarakat pesisir.
Ketika berhadapan dengan orang-orang dari kota, komunikasi akan berlangsung satu arah dimana informasi dari kota bagaikan sabda yang umumnya akan dipercaya. Terlebih bagi para orangtua yang memang buta dengan sebaran informasi karena minimnya pendidikan mereka.
Banyak juga warga yang malu-malu dan memilih masuk kembali ke rumah mereka ketika berhadapan langsung dengan orang kota.
Memang tidak semua masyarakat pesisir begitu, tapi rasanya jumlah mereka yang menganggap dan meyakini orang lebih baik jauh lebih banyak.
Keseharian Susah, Rom dan pengalaman Boy Harianto ini, paling tidak bisa menjadi sedikit acuan untuk menggambarkan realita masyarakat kecil umumnya ditemui di pesisir Batam. Mereka bergerak perlahan dalam kearifan kehidupan kampung bergandeng dengan pesatnya gerak kota Batam yang dulu digadang-gadang menjadi salah satu pusat ekonomi Indonesia.
Bagaimana keterbatasaa pendidikan dan pengalaman mereka membuat kehidupan kota terasa tidak ramah. Mentalitas orang di wilayah pesisir yang kadung meyakini masyarakat kota lebih baik juga membuat mereka tertinggal, padahal seharusnya tidak demikian.
Masyarakat pesisir dengan kearifan lokal mereka, sejatinya bisa setara bahkan lebih baik dari masyarakat kota. Ketidaktahuan masyarakat pesisir dengan lingkungan kota senada dengan ketidaktahuan masyarakat kota dengan kearifan lokal pesisir. Bedanya, ketika masyarakat kota acuh dengan ketidaktahuan masyarakat pesisir ketika berada di kota, masyarakat pesisir justru dengan senang hati dan arif berbagi pengalaman.
Dukungan untuk Anak Pulau
Seiring berjalannya waktu, gerak kehidupan di pesisir perlahan mulai mendapatkan sentuhan lain. Generasi muda di pesisir mendapatkan ruang lebih untuk akses pendidikan tinggi, tidak hanya di lingkungan Kota Batam dan Kepulauan Riau (Kepri) saja, mereka juga difasilitasi untuk bisa mengais pengalaman di perguruan tinggi di kota besar lain di Indonesia. Tentang hal ini, akan disampaikan dalam tulisan selanjutnya.



