Beberapa gambar saya dapat dari seorang kawan. Sambil mengernyitkan dahi, saya bertanya, ini apa? Potongan momen kegiatan sosial, berbagi kepada masyarakat kurang mampu di Kampung Bulang Lintang, Batam. Oleh kelompok/komunitas bernama Kembara yang diinisiasi para pemuda pesisir. Berisi orang-orang biasa yang punya kebaikan luar biasa.
Saya mengangguk dengan penjelasan yang sedikit itu.
Cukup lama saya memperhatikan gambar-gambar ini. Saya merasakan sesuatu. Saya bahkan tidak mengenal semua, hanya sebagian dari mereka (anggota Kembara). Akan tetapi, terasa ada semacam keterikatan emosional. Fakta bahwa saya dan mereka berasal dari tanah dan kultur yang sama, mungkin cukup menjadikan itu lebih dari sekadar sesuatu yang biasa.

Saya kurang mengerti, mengapa saya menjadi begitu melankolis acap kali melihat orang-orang miskin di pesisir Batam ini.
Coba pandangi lebih dalam wajah-wajah itu, raut yang penuh pengharapan, ada rasa terima kasih yang begitu tulus. Seakan akan tak ada kata yang sepadan untuk melukiskannya. Ada doa-doa yang mungkin tidak akan tertolak dari lisan mereka.
Lihatlah lebih jauh, mungkin sambil menikmati alunan Melody of Love-nya Hans Engelman, Serenade dari The Elegance of Pachelbel, Canon in D (saya rasa tidak, ini melodi pernikahan) atau mahakarya dari Frederic Chopin.

Mungkin kita bisa merasakan sesuatu yang membuat kita termehek mehek. Kiranya ada yang beranggapan bahwa saya terlalu meromantiskan hal ini, biarlah. Saya tidak mau masuk ke dalam perdebatan ini.
Mungkin sudah terlalu lama dunia merenggut senyum dari wajah mereka, hidup dengan kenyataan yang menyesakkan, dengan para pengkhotbah yang mengajarkan bagaimana hidup miskin di atas mimbar yang megah.
Pun dengan orang-orang yang keluar dari mobil Alphardnya, lalu merasa seolah bagian dari mereka, serta kebisingan para hipokrit di sana yang memuakkan, yang terus saja mengoceh tentang kesejahteraan.

Dan akhirnya, ternyata kita mendapati ada orang-orang biasa yang memberikan senyum itu. Karena kata-kata bisa menipu, sedangkan rasa tidak.
Begitu yang saya pahami. Orang-orang biasa juga bisa bertutur dengan mereka tentang sebuah angan-angan, tentang hal-hal sederhana yang menggembirakan. Tentang keindahan, tentang sebuah mimpi, atau apapun itu. Jauh dari mesin-mesin produksi, rumitnya birokrasi, upah serta hal-hal yang bersifat materialistik lainnya ala perkotaan yang tak akan pernah mereka pahami.
Demikian sebuah tulisan yang sama sekali tidak indah ini diakhiri. Tulisan dari seorang pengoceh. Orang miskin yang gagal juga, yang bahkan untuk sekedar bangun pagi pun sering gagal. Meskipun begitu, tak mengapa jika saya mengapresiasi kebaikan dari kawan-kawan ini bukan.
Catatan:
Disarankan untuk mendengarkan melodi yang telah disebutkan di atas ketika melihat gambar dan membaca tulisan ini.




Buzar Ahmad Syah
Terbaek