Pulau Anak Karas yang terletak di Kelurahan Karas, Kecamatan Galang, Batam, nampaknya menjadi aset berharga provinsi kelautan seperti Kepulauan Riau (Kepri). Landscape alam baharinya yang masih terjaga menjadi ekosistem alami bagi biota yang ada di sekitar kawasan, bagi induk Penyu mengubur telur-telurnya untuk kemudian ditinggalkan; beragam jenis tumbuhan; dan ikan karang.
Terletak di bagian ujung Pulau Karas, Kelurahan Karas, Kecamatan Galang, Batam, Pulau Anak Karas yang tak berpenghuni ini dikelilingi oleh sebagian besar hamparan pasir putih. Sisi lainnya ditumbuhi Mangrove dan terdapat tumpukan alami batu-batu berukuran besar.
Di bagian tengah pulau, terhampar tanah datar cukup luas, ditumbuhi pohon kelapa yang membuat kawasan ini terasa tidak terlalu panas ketika siang hari. Sisi lainnya berupa lahan dengan kontur berbukit, menjadi tempat berdirinya menara suar, penanda bagi kapal-kapal besar yang melintasi di jalur ini.
Menara suar yang masih beroperasi ini merupakan menara tua yang telah berusia lebih dari 130 tahun. Salah satu peninggalan penjajah, ada tulisan berbahasa Belanda juga di bagian menara ini.
Ada beberapa alternatif jalur penyeberangan yang bisa digunakan kalau ingin datang ke pulau kosong ini dari Kota Batam. Pertama, melalui Pelabhan Rakyat di Kampung Sembulang, Kelurahan Sembulang, Kecamatan Galang. Kedua, dari Pelabuhan Rakyat Kampung Baru di Kelurahan Galang Baru, Kecamatan Galang.
Untuk sampai pelabuhan rakyat di Kampung Sembulang, dari Kota Batam bisa menaiki angkutan umum (Bus) dengan jurusan Sembulang-Jodoh. Bus yang beroperasi dua jam sekali ini akan berhenti tepat di muka pelabuhan yang terletak di Pulau Rempang, Jembatan 4 Barelang ini.
Kapal penyeberangan menuju Pulau Karas Besar hanya ada tiga kali dalam sehari (pukul 08.00 WIB; pukul 12.00 WIB, dan Pukul 15.00 WIB, dengan biaya Rp 30 ribu sekali jalan. Waktu ini disesuaikan dengan jadwal Bus, transportasi yang umumnya digunakan masyarakat pesisir menuju kota. Dari Pulau Karas Besar, menyeberang sedikit lagi menuju Pulau Anak Karas.
Jika ingin praktis, bisa meminta diantar langsung ke Pulau Anak Karas, biasanya menggunakan sistem carter dengan biaya sekitar Rp 500 ribu sekali jalan. Sistem carter ini biasanya lebih nyaman dan tak terikat waktu, namun jika memilih cara konvensional, akan bisa menikmati sensasi beraktivitas layaknya masyarakat pesisir.
Alternatif penyeberangan lainnya, dari Pelabuhan Rakyat Kampung Baru. Pelabuhan rakyat ini terletak lebih jauh, tepatnya di Jembatan 6 Barelang. Tapi jarak penyeberangan menuju Pulau Anak Karas menjadi lebih dekat.
Mereka yang menyeberang melalui pelabuhan di Kampung Baru, biasanya akan dijemput langsung dengan sistem Charter. Karena di pelabuhan ini tidak ada kapal penyeberangan reguler menuju Pulau Karas.
Tidak perlu khawatir akan mengalami kesulitan ketika nantinya berada di pulau ini, karena ada seorang warga yang akan membantu. Namanya Busri, lebih dikenal dengan sapaan Abang Bujang (Kontak Busri/Abang Bujang : +62-852-6449-2925).
Minta bantulah ke Abang Bujang. Soal antar jemput ke dan dari Pulau Anak Karas; soal konsumsi seafood khas masyarakat pesisir; menyediakan air untuk kebutuhan mandi, wudhu, dan sebagainya; Bang Bujang juga akan senang menemani jika ada yang ingin bermalam menikmati kesunyian di pulau ini.
Meski tak berpenghuni, di bagian pantainya, sengaja dibangun pondok-pondok kecil sebagai fasilitas berteduh bagi masyarakat yang singgah di pulau ini. Juga tersedia kamar mandi dan musola.
Mereka yang beruntung terkadang bisa ikut melepas tukik (anak penyu). Abang Bujang biasanya akan mengabari ketika Tukik siap untuk dilepasliarkan. Karang yang masih bagus di sekitar pulau ini juga menyamankan mereka yang senang memancing, walaupun aktivitas itu hanya dilakukan dari bibir pantai saja.
Di sore hari, pengunjung bisa menikmati indahnya matahari terbenam dari hamparan pasir yang menjorok ke laut di bagian ujung pulau.
Belum banyak orang yang datang ke pulau indah ini. mungkin karena jarak menyeberang menuju pulau cukup jauh, membutuhkan waktu sekitar 45 menit sampai satu jam menggunakan kapal cepat.
Meskipun demikian, orang yang pernah datang pasti akan ketagihan dan memilih untuk kembali lagi. Tidak hanya kagum dengan keindahan alamnya, namun juga terkesan dengan sambutan dari Abang Bujang dan kerabatnya.
Mereka akan sangat terbuka, melayani dengan senang dan kemampuan terbaik. Jangan heran kalau Abang Bujang akan pulang pergi dari rumahnya ke Pulau Anak Karas hanya untuk mengantar pesanan dan kembali lagi beraktivitas layaknya warga pesisir lain. Kadang ia memilih untuk tidak bekerja hanya untuk menemani tamu yang datang berkunjung.
Abang Bujang bertanggung jawab atas separuh pulau ini, amanat dari orangtuanya yang lebih dulu berkebun dan mengais rezeki dari tanah dan perairan di sini.



