Loading...
Pojok KiteSejarah

Berbicaralah Lewat Tulisan, Kata-katamu akan Abadi

Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa-suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang, menurut Seno Gumira Ajidarma.

Tulisan memiliki kekuatan mendorong perubahan. Hal yang membedakan Kartini dengan kebanyakan wanita pada zamannya adalah menulis. Kartini dianggap sebagai pelopor emansipasi wanita yang juga sebagai pahlawan nasional karena ia menulis.

Multatuli menulis sebuah novel berjudul Max Havelaar sebagai jalan untuk mengkritik pemerintah Kolonial Belanda. Novel Max Havelaar ini membuka mata dunia terhadap kebobrokan sistem kolonial yang kelak melahirkan politik etis.

Gert Oostindie menulis buku Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950 yang berisi kekejaman Belanda terhadap Indonesia. Sumber-sumber dari buku ini berasal dari catatan harian, kesaksian, surat serta memoir dari tentara Belanda itu sendiri sebagai pelakunya.

Selain kekejaman, buku ini juga menggambarkan kegetiran tentara Belanda yang tidak memiliki pengetahuan tentang Indonesia. Soal ini, juga dibahas dalam https://historia.id/politik/articles/derita-serdadu-belanda-di-indonesia-vg1QZ.

Tome Pires membuat catatan perjalanannya di Asia, termasuk Nusantara. Catatan tentang keadaan geografis, budaya, ekonomi, sosial hingga aspek keagamaan pada abad ke 16. Catatan ini kelak menjadi karya penting yang kita kenal dengan Summa Oriental.

Pena itu lebih tajam dari pedang, begitu kata voltaire yang menginspirasi banyak penulis tentang ide demokrasinya. Melahirkan Revolusi Prancis pada 1789 oleh D’Anton, Marat dan Robespierre, yang akhirnya berhasil menumbangkan dinasti Bourbon.

Dengan tulisan kita bebas menyampaikan ide, segala keresahan dan ketidakadilan.

Apa yang kita tulis?

Sekitar beberapa abad yang lalu saya tidak menemukan apa-apa di sini. Pada abad berikutnya barulah samar-samar ada pijar cahaya yang sedikit menerangi. Lalu, apakah untuk satu abad kemudian kita hanya membiarkannya terus seperti, atau bahkan kembali gelap/mati?

Untuk tetap menjaga pijar cahaya itu, berceritalah tentang saat ini melalui tulisan. Bahwa di sekitar kita ada kehidupan. Ceritakanlah kalau dulu di tempat yang redup itu adalah tempat bermain kita. Ceritakan apa saja yang ingin diceritakan.

Ceritakan sepanjang hari ini kalian menahan lapar. Ceritakan bahwa hari ini tidak seekor pun ikan yang memakan mata pancingmu. Ceritakan bahwa anak-anak kalian hari ini terus menangis karena kalian tidak bisa membelikannya susu.

Ceritakanlah kenyataan itu, meskipun tidak ada mata yang melihat, telinga yang mendengar, atau kepala yang mengangguk menanggapi.

Tuliskan bahwa di sini roda kehidupan tidak berputar. Hidup seperti roda yang berputar itu adalah omong kosong belaka. Bahwa kalian cukup banyak melihat orang-orang yang terlahir miskin, mati pun tetap begitu. Atau kalian yang menjadi bagian dari orang-orang itu.

Ceritakanlah, bahwa pada satu masa, ada orang yang menjadi bagian dari kita datang untuk menawarkan sebuah angan tentang kesejahteraan. Kemudian menghilang setelah kesejahteraan itu didapat, tentu hanya untuk dirinya sendiri.

Dulu, di sini, air lautnya biru, tetapi sekarang menghitam. Ada pantai dengan pasir putih memanjang hingga sejauh mata memandang, tapi sekarang raib entah kemana. Ceritakan dahulu kalian selalu bermain di pantai yang indah itu dengan bebas, sekarang kalian tidak bisa lagi begitu. Ceritakan bahwa sekarang pantai itu bukan untuk orang-orang seperti kalian lagi.

Ceritakanlah agar kita saling mengenal dan memahami, agar kita tahu bahwa kita tidak berbeda. Tulislah cerita itu. Kelak tulisan tulisan itu akan terdengar lebih lantang ketika kita tidak ada lagi.

Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Begitulah seperti yang dituturkan Pramoedya Ananta Toer.

Menulis juga berarti menjaga masyarakat kita, leluhur kita, dan generasi kita agar tidak lenyap dihabisi sang waktu. Begitu yang saya percayai.

Tinggalkan Pesan

Editorial
%d bloggers like this: