Loading...
ReviewReview Buku

Review Buku Mitos Peribumi Malas: Imej Orang Jawa, Melayu dan Filipina dalam Kapitalisme Penjajah

Buku berjudul Mitos Peribumi Malas: Imej Orang Jawa, Melayu dan Filipina dalam Kapitalisme Penjajah setebal 281 halaman, menjadi ruang bagi Syed Hussein Alatas menjelaskan secara rinci asal usul stereotip peribumi malas yang berasal dari ideologi Kolonial Barat. Profesor Sosiologi ini dengan sangat baik menelusuri  pembentukan  citra orang-orang Melayu berdasarkan akar sejarah dan kajian sosiologisnya.

Secara umum buku ini berisi bantahan dari Syed Hussein Alatas terhadap bangsa kolonial berkenaan cara pandang mereka terhadap bangsa peribumi. Peribumi dipandang sebagai penduduk yang malas merupakan sebuah legitimasi yang  berfungsi sebagai landasan bangsa kolonial untuk mengembangkan ideologi imperialisme barat di wilayah koloninya.

Kemalasan yang digaungkan oleh imperialisme barat seperti, malas, bodoh, licik dan kekanak-kanakan bukanlah sesuatu yang berasal dari ilumuwan. Stereotip ini didengungkan oleh para rahib, pegawai, pemerintah, pemilik ladang, pelaut, tentera, penulis perjalanan popular, dan pelancong” ( hlm 97).

“Kemalasan peribumi tidaklah memiliki landasan ilmiah. Citra ini dibangun karena masyarakat Melayu tidak mau bekerja di ladang milik pemerintah. Tidak dapat disangkal bahwa sebagian masyarakat Melayu memang malas, tetapi yang mempunyai sifat ini hanya golongan atasan” ( hlm 104 ).

Stereotip tentang kemalasan peribumi tidak lain adalah untuk melanggengkan eksploitasi terhadap penduduk peribumi demi keuntungan bangsa kolonial.

Kurangnya pembahasan dari aspek psikologis juga menjadi sorotan Syed Husein Alatas terhadap pelabelan peribumi malas. Aspek psikologis dinilai penting untuk mengetahui cara berpikir dan cara hidup penduduk pribumi.

Seseorang yang bekerja sebagai penarik delman menunggu penumpang tidak bisa dikatakan malas. Begitu juga dengan penjaga warung bersantai sambil menunggu pembeli bukanlah perangai seorang pemalas. Banyak jenis pekerjaan lain seperti nelayan, petani yang dianggap sebagai bentuk kemalasan oleh bangsa kolonial.

Pola pikir bangsa pribumi yang tidak mau bekerja selama masih ada persediaan beras, atau tidak melaut dan bertani dikarenakan persediaan kebutuhan hidup masih ada tidaklah bisa dikatakan malas. Hal ini  berkaitan dengan cara pribumi dalam menikmati hidupnya. Stereotip ini muncul ketika bangsa kolonial melihatnya dari sudut pandang yang kapitalistik.

Penggambaran negatif yang dibentuk oleh kolonialisme di satu sisi tidaklah sepenuhnya keliru.

Ada unsur kebenarannya di dalamnya tetapi tidak mewakili seluruh gambaran. Lagipula kolonialisme barat memperkenalkan bentukya sendiri tentang kezaliman,ketidakstabilan,anarki,kemunduran,dan tidak ada undang-undang” ( Hlm 123 ).

Akan tetapi, penggambaran yang  tendensius, picik, dan standar ganda yang dihembuskan oleh bangsa kolonial menjadi sesuatu yang perlu dikaji kembali. Buku ini termasuk salah satu pembelaan bangsa Jawa, Melayu dan Filipina terhadap citra negatif yang dibangun bangsa kolonial.

Data buku

Judul                     : Mitos Peribumi Malas: Imej Orang Jawa, Melayu dan Filipina dalam Kapitalisme Penjajah

Penulis                 : Syed Hussein Alatas

Penerbit               : Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur 1989. Cetakan pertama buku ini pada tahun 1977 dengan judul The Myth of the Lazy Native diterbitkan oleh Routledge. Buku ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ahmad Rofie pada tahun 1987, kemudian diubah ke dalam Bahasa Malaysia oleh Zainab Kassim pada tahun 1989.

Tinggalkan Pesan

Editorial
%d bloggers like this: