Perkumpulan atau komunitas Kembara sudah malang melintang menjadi agensi sosial di masyarakat, khususnya di kawasan pesisir Batam sejak sekitar tahun 2015 lalu. Kegiatan Kembara Berbagi, menjadi agenda yang terus berjalan sampai saat ini. Menyalurkan kue untuk 2 masjid setiap hari Jumat dan menyalurkan sembako pada janda dan jompo setiap 2 bulan sekali terus berjalan.
Beberapa waktu lalu, komunitas anak muda peisir Batam ini membagikan sembako di Pulau Bulang Lintang dan Bulang Kebam di Kecamatan Bulang, tepatnya pada Kamis (20/8/2020). Sebanyak 80 paket sembako diberikan kepada masyarakat pesisir yang membutuhkan. Kembara juga berziarah ke Makam Temenggung “Tun” Abdul Jamal dan melihat pusaka peninggalannya di Bulang Lintang (Tentang ini nanti dibahas lagi).
Akan Kembara ini sendiri, masyarakat pesisir selalunya terkejut dengan kehadirannya di kampung mereka. Tidak menyangka anak-anak muda pesisir bisa konsisten dengan program sosial seperti yang dijalani, ada juga yang tidak tahu kalau Kembara ini berisi anak-anak muda pesisir.
Saat penyerahan bantuan di Bulang misalnya, warga baru mengetahui Kembara ini berisi anak-anak muda pesisir Batam, setelah berbincang santai di sela-sela penyerahan bantuan. Berangkat dari situlah, tulisan tentang Kembara dan siapa saja yang bernaung dengannya ini terasa penting untuk ditambatkan. Terlebih antusiasme dan dukungan moral masyarakat pesisir cukup besar ketika tahu tentang Kembara.
Kembara ini berdiri atas dasar keinginan beberapa anak muda pesisir Batam (Kecamatan Galang, Bulang dan Belakangpadang) mengenal lebih dekat daerah mereka sendiri. Ingin paham dengan sejarah daerah dan bersilaturahmi bersama orangtua dan masyarakat kampung.
Keinginan itu muncul setelah beberapa pendiri cikal bakal Kembara berkendara dengan mobil antik menyusuri sepanjang jalan di kawasan Barelang. Sepanjang perjalanan itu mereka sempat beberapa kali berhenti. Mereka tidur di musola, singgah di pusat keramaian (ternyata orang maen joget) dan bertemu dengan banyak hal dalam perjalanan singkat itu.
Kegiatan mereka berjalan itu akhirnya dinamai Kembara Jelajah Negeri Jejak Tanjak, terkukuh dalam sebuah pertemuan sederhana di bilangan Jembatan 1 Barelang. Diperkaya dengan aktivitas berbagi di setiap destinasi yang mereka kunjungi, sehingga didapatlah jargon “Bukan sekedar jalan-jalan”.

Di masa awal, hanya ada sekitar 8 anak muda asal tiga kecamatan pesisir Batam yang bergabung. Seiring berjalannya waktu, Kembara menjadi naungan bagi lebih banyak anak-anak muda, mendapat dukungan dari dalam dan luar negeri (Negara tetangga Singapura dan Malaysia) dan tetap konsisten berbagi.
Pengalaman singkat bertemu dengan pengurus Kembara, rasanya memang tidak bisa menjadi acuan untuk menilai mereka. Tapi, paling tidak, kita bisa memulai untuk tahu sedikit tentang masing-masing dari mereka. Siapa tahu suatu saat kita bisa bersama-sama Kembara, menyusuri pesisir Batam dan Kepri, menjumpai orang-orang baru dan berbagi dengan mereka.
Limawan
Ada banyak istilah posistif dalam bahasa Indonesia yang sesuai dengan Limawan. Diantara itu, saya memilih kata ‘bersahaja’ untuk mengasosiasikan pemuda asal Pulau Setokok, Kecamatan Bulang, Batam ini. Ia selalu terlihat sederhana dan tidak berlebihan dalam banyak kesempatan kami bertemu.

Setelah ia merantau ke ibu kota, nasehat dan reaksinya menanggapi obrolan melalui aplikasi Whatapps Group juga tetap sama. Menghadirkan suasana tenang untuk anggota lain meski tidak selalu menjadi solusi.
Limawan adalah pendiri Kembara, semangatnya merasuk dalam karakter kembara yang berupaya membawa keceriaan dengan cara-cara sederhana. Konsisten berbagi walaupun hanya sedikit. Membantu seberapa Kembara mampu.
Limawan adalah novelis yang suka puisi. Novel pertamanya, Cinta Berkelas dari Sang Disabilitas sudah tercetak banyak. Tersebar ke berbagai daerah di nusantara, ini sudah terbukti dan nampak dari pajangan dokumentasi di media sosial miliknya. Novel tersebut barangkali ada kaitan dengan cerita hidupnya. Kisah cinta yang tak biasa dari sepasang muda-mudi.
Zahrin Rahmat
Zahrin Rahmat nama aslinya, dalam banyak kesempatan ia juga memperkenalkan diri dengan identitas ‘Hang Eksen’. Terpilihnya kata Hang Eksen, menuruti karakter dan sifat dirinya yang terus saja melakukan aksi atas setiap ide-idenya.

Ia telah bergerak membantu perekonomian nelayan lewat pengolahan Ikan Tamban di bawah naungan Kelompok Pengolah Pemasar (Poklaksar) Anak Nelayan Mandiri miliknya. Ikan Tamban Menari yang menjadi brand produknya sudah menyebar ke banyak daerah, bahkan sampai ke Malaysia dan Singapura. Ia juga mendirikan pesantren alam modern yang ditujukan untuk membantu pendidikan bagi masyarakat pesisir.
Eksen Zahrin di Kembara, membuatnya ibarat tulang punggung dalam susunan rangka manusia. Ia selalu maju lebih dulu dan hadir dalam setiap program berbagi Kembara. Ide berbagi apa, lokasi pembagian, menjalin komunikasi dengan masyarakat maupun donatur menjadi tugas yang dengan senang hati dikerjakannya, bagian dari Eksen konon.
Ia lincah, bisa menjelajah sampai ke pelosok dengan sepeda motor miliknya. Tapi tidak jika ia diajak berkendara dengan mobil atau kendaraan roda 4 lainnya, Zahrin jadi lemah, mabuk kendaraan. Itulah sebabnya ia pasti menolak dan memilih ikut rombongan dengan berkendara, selagi bisa. Jadi, jika suatu waktu rombongan Kembara datang di kampung kalian, pasti tahulah yang mana Zahrin Rahmat.
Zahrin Lahir dan besar di Pulau Setokok, Kecamatan Bulang, Batam. Saat ini, ia, istri dan putri manisnya tinggal di Perumahan Cipta Asri, Batam.
Muslim
Anggota Kembara yang satu ini memiliki karakter tegas. Begitulah yang saya pahami sepanjang mengenal Muslim. Ketegasannya membawa pengaruh pada konsistensi Kembara dengan tujuan utamanya ‘bersilaturahmi dan berbagi’ sepanjang Kembara berdiri.

Meskipun tidak selalu hadir dalam kegiatan-kegian Kembara, segala bentuk dukungan tetap ia berikan untuk Kembara. Kediamannya di Tanjung Kertang, Kelurahan Rempang Cate, Kecamatan Galang sering dijadikan tempat berkumpul anggota Kembara. Lengkap dengan jamuan menggugah selera.
Topi dan kacamata tidak pernah lepas dari Muslim, semacam trademark dirinya.
Pemilik Yayasan Anak Watan ini adalah pengajar, se-profesi dengan Hang Eksen. Ia juga dipercaya membina remaja di kampungnya, melibatkan mereka dalam kegiatan-kegiatan kampung, termasuk saat Kembara berbagi di Tanjung Kertang.
Tegas memang menjadi karakter utama Muslim. Namun demikian, ia juga bisa diajak bercanda dan teradang ia yang megawali berseloroh. Tapi tetap dengan gaya tegas.
Muslim adalah pemilik mobil antik yang membawa Limawan dan Zahrin berkeliling, bertemu dengan momen-momen unik hingga akhirnya menjadi cikal bakal Kembara. Selain tegas, Muslim juga antik.
Sutris Astari
Sutris Astari adalah ketua definitif Kembara sejak awal berdiri. Pemuda asal Pulau Panjang, Kelurahan Sijantung, Kecamatan Galang ini memimpin dengan caranya sendiri. Mendorong dan menguatkan, menuntun, menjaga dan bergerak bersama Kembara. Ia tak menganggap dirinya ketua perkumpulan, semua anggota bisa bersuara lantang.

Sama dengan anggota lain, Sutris memberikan yang terbaik untuk Kembara. Kediamannya di kawasan Perumahan Cipta Asri menjadi pusat logistik sebelum dibagikan ke masyarakat pesisir yang membutuhkan. Mengambil ruang dan keleluasaan bagi keluarga kecilnya di sana.
Sutris menjadi penghulu ketika Kembara tiba di kampung tujuan. Mengawali perkenalan, menjelaskan maksud dan tujuan Kembara datang berkunjung. Dengan segala pengalamannya berada di antara semua anggota, ia menjaga ruh bersilaturahmi dan berbagi dalam Kembara.
Seperti yang disampaikan di awal, sedikit kesan ini tidak cukup untuk sebuah penilaian tentang mereka. Begitu juga dengan mereka yang belum tertulis di sini.

Masih ada nama macam Shapanan, Mahatir, Muklis, Kamarulzaman, Amin, Putra, Egy, Aziz Palika, Agus, Abuzar, Topik, Ibrahim, Mulyadi, Zai dan banyak lagi yang membuat naungan bersama Kembara. Yang berperan penting, tidak kalah penting untuk Kembara. Semoga diberi ruang untuk menceritakan tentang mereka bersama Kembara.



