Loading...
Tokoh

Bang Bujang, Tahu Tentang Konservasi Penyu dari Alam

Terakhir berjumpa dengan bang Bujang (Busri nama aslinya) sekitar 2 minggu lalu. Saya bertandang ke kediamannya di kampung Darat Pulau, Kelurahan Karas, Kecamatan Galang, Batam Kepulauan Riau (Kepri) dengan misi ikut bang Bujang mengintip penyu bertelur di Pulau Anak Karas.

Pulau kosong ini terletak persis di seberang pulau kediaman bang Bujang, hanya berjarak sekitar 800 meter saja. Separuh pulaunya berupa hamparan pasir datar yang ditumbuhi pohon kelapa, sebagiannya lagi memiliki kontur berbukit diliputi tumbuhan buah tahunan seperti Pohon Mangga, Jambu dan tanaman hutan lainnya.

Tiba di rumah bang Bujang pada Sabtu (4/7) siang sekitar pukul 13.WIB, setelah sebelumnya berkendara sekitar 1 jam dari Batam Centre ke Pelabuhan Rakyat di Kelurahan Sembulang dan menyeberang dengan kapal cepat kurang lebih 40 menit. Rumahnya berbentuk rumah panggung berada di laut, di sisi kirinya terdapat ruang terbuka yang biasa digunakan untuk duduk santai. Dari sini, Pulau Anak Karas terlihat jelas.

Kami berbincang di sini, Bang Bujang bercerita tentang pengalamannya berurusan dengan Penyu yang setiap tahun bersarang di pulau Anak Karas. Dari dalam rumah kayu itu, istri bang Bujang sesekali terlihat. Ia keluar dan bergabung dengan kami sambil membawa 3 gelas teh panas.

Ia lebih banyak mendengar dan mengiayakan cerita bang Bujang. Saya juga demikian. Kami tidak bisa bisa menimpali karena pengetahuan dari pengalaman Bang Bujang terasa unik sekali. Terlebih pengalaman itu ia sampaikan dengan bahasa Indonesia dengan serempetan kosa kata Melayu kental, kadang mengundang tawa, kadang perlu dicerna lebih lama untuk bisa paham.

Ia tahu kapan pastinya penyu akan naik bertelur hanya dengan melihat tanda-tanda kilatan di langit dan hitungan bulan dalam kalender Hijriah. Bang bujang bisa tahu ciri atau gerak-gerik Penyu ketika akan mengeluarkan telurnya saat sudah berada di pasir dan membuat kubangan.

Ia juga bisa menemukan dimana persisnya posisi telur penyu ketika hanya mendapati jejak kaki Penyu. Ia tidak selalu bisa melihat langsung penyu bertelur, justru lebih banyak hanya menemukan jejak kaki Penyu ketika naik dan turun ke laut setelah bertelur. Karena ada kesibukan lain sebagai nelayan, tidak setiap momen penyu bertelur ia bisa berjaga.

“Kalau pas air pasang dan ada kilat agak kuning, itu biasanya ada Penyu aik bertelur, kalau mau tengok dia (Penyu) bertelur harus siap-siap kita berjaga di pulau (Pulau Anak Karas),” kata Bang Bujang meyakinkan.   

Dari pengalamannya selama bertahun-tahun, ia menjelaskan kalau prosesi bertelurnya penyu mulai dari ia naik ke darat mencari lokasi, menggali lubang utama dan lubang tipuan dari pemangsa, bertelur, mengubur telur, hingga akhirnya kembali ke laut, butuh waktu cukup panjang, bisa sampai sekitar 3 atau 4 jam lamanya.

Pada prosesnya hewan yang dilindungi ini sangat sensitive ia mengaku tidak berani mendekat karena takut mengganggu prosesnya bertelur. Ia sempat mendapat informasi dari warga kalau ada penyu yang naik ke darat namun tidak bertelur, hal itu mungkin karena terganggu karena mengetahui keberadaan manusia.

Lain halnya mendekat ketika Penyu telah mengeluarkan telurnya, keberadaan manusia tidak akan mengganggu proses selanjutnya, walaupun ia tetap tidak berani untuk datang terlalu dekat dengan lokasi Penyu yang tengah bertelur itu.

“Kalau kaki belakangnya sudah lurus begini (ke belakang menutupi lubang), itu pasti mulai bertelur. Kalau sudah bertelur tidak apa-apa kita dekat, tapi jangan dekat sangat. Matanya jangan disenter, dia silau,” kata Bujang. 

Untuk menemukan telur yang sudah ditinggalkan induk Penyu, biasanya Bujang akan menggunakan kayu kecil menusuk pasir yang berada di sekitar kawasan jejak Penyu bertelur. Untuk menemukannya menusuk pasir tidak bisa dilakukan secara asal, harus sedikit miring hingga akan menyesuaikan dengan lubang yang dibuat sedikit berbelok.

Bujang tidak langsung bisa, ia sempat cukup lama menggunakan jasa warga lain untuk menemukan telur-telur yang ditinggalkan induk Penyu di dalam tanah. Membayar warga untuk mengetahui lokasi telur, kemudian ia pagari dengan kerangkeng sederhana dari jarring dan papan agar terlindung dari pemangsa.

“Dulu bayar orang, kalau tidak bayar macam mana mau pasang kerangkeng, kadang-kadang diambil orang juga, kalau sudah ada kerangkeng orang tidak ambil lagi,” kata dia.

Saat ini, Bujang sudah cukup mumpuni, walaupun ia mengaku banyak yang harus dipelajari, utamanya memaksimalkan perawatan terhadap telur-telur yang ada di semua sarang agar bisa menetas secara optimal.

Dalam periode Mei hingga pertengahan Juli 2020 ini, sudah ada 6 induk Penyu yang meninggalkan telurnya di Pulau Anak Karas. Jumlah itu diyakini Bujang akan bertembah, karena sepengetahuannya siklus bertelur penyu masih akan berlangsung dari bulan April atau Mei hingga bulan Oktober setiap tahunnya.

Tahun 2020 ini, Bujang mendapatkan dukungan bantuan 5 buah Kerangkeng dari Pramuka Kota Batam. Keamanan sarang Penyu di Pulau Anak Karas ini juga akan didukung oleh program CSR salah satu perusahaan di Batam, dalam waktu dekat kabarnya akan selesai dibuat.

Bujang yang emang tidak dibayar atas kegiatan konservasi yang dilakukannya ini mengaku senang. Kepedulian yang diberikan, semoga memberi pengaruh pada peningkatan jumlah tukik yang bisa dilepasliarkan. Untuk diketahui, tahun lalu Bujang berhasil melepasliarkan sebanyak 1.072 ekor tukik di 7 sarang dari total ada 13 sarang Penyu di lokasi ini. 6 sarang diantaranya gagal karena berbagai factor, mulai dari gangguan pemangsa (Biawak) maupun ulah manusia.

“Jaga semampu kita saja, mana bisa 24 jam di sini, tapi saya usahakan tiap hari datang,” kata ayah dua putri ini.

Atas hal tersebut, Bujang mendapatkan sertifikat dari Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Padang. Ia mengaku akan lebih senang lagi jika ada dukungan pada peningkatan infrastruktur penyelamatan telur Penyu untuk kemudian dilepasliarkan setelah menjadi tukik ini; dukungan sosialisasi kepada masyarakat agar bisa ikut bersama-sama menjaga penyu dan habitatnya.

Tak terasa, obrolan kami berlangsung berjam-jam, padahal niatnya hanya sebentar. Suara azan Ashar menjadi akhir dan menutup obrolan kami. Bujang juga mengingatkan agar mempersiapkan senter, sarung dan kelengkapan lain untuk kami mengintip Penyu bertelur malam harinya. Soal bagaimana sensasi mengintai langsung Penyu bertelur, nantilah kita bicarakan.

Tinggalkan Pesan

Editorial
%d bloggers like this: